Higiene Abad Pertengahan

sains di balik mitos bahwa orang zaman dulu tidak pernah mandi

Higiene Abad Pertengahan
I

Kalau kita menonton film berlatar Abad Pertengahan, ada satu hal yang rasanya selalu konsisten. Semuanya kotor. Wajah berlumuran lumpur, gigi menghitam, dan pakaian yang sepertinya tidak pernah dicuci sejak era Kekaisaran Romawi runtuh. Kita sering membayangkan leluhur kita di masa itu baunya minta ampun. Tapi, benarkah begitu? Mari kita jeda sebentar dan berpikir kritis. Apakah masuk akal jika selama ratusan tahun, umat manusia mendadak lupa caranya membersihkan diri? Hari ini, saya ingin mengajak teman-teman membongkar salah satu mitos sejarah paling awet ini. Ternyata, kenyataannya jauh lebih kompleks, lebih ilmiah, dan sejujurnya, lebih masuk akal daripada bayangan kita.

II

Mari kita mulai dari sisi psikologi dan biologi dasar. Secara evolusioner, manusia dirancang untuk merasa jijik terhadap kotoran dan bau busuk ekstrem. Ini adalah mekanisme pertahanan diri naluriah kita terhadap penyakit. Jadi, nenek moyang kita di Abad Pertengahan juga punya hidung yang berfungsi normal. Mereka tidak suka bau badan. Buku-buku tata krama dari abad ke-13 dengan tegas menyarankan orang untuk mencuci tangan, wajah, dan menggosok gigi setiap pagi. Bedanya hanya di masalah logistik dan hukum termodinamika. Di zaman itu, tidak ada water heater otomatis. Mengambil air dari sumur, memikulnya ke rumah, dan merebusnya di atas tungku kayu butuh kalori dan waktu yang luar biasa besar. Mandi rendam seluruh tubuh adalah sebuah kemewahan. Namun, bukan berarti mereka tidak mandi. Mereka melakukan apa yang sekarang kita sebut sebagai sponge bath atau mandi lap. Mereka rutin membersihkan area-area tubuh yang banyak memproduksi keringat menggunakan kain linen basah.

III

Faktanya, industri kebersihan di masa itu cukup maju. Orang-orang menciptakan sabun dari campuran lemak hewani dan abu. Kota-kota besar di Eropa bahkan memiliki fasilitas pemandian umum yang disebut stewes. Di pemandian ini, orang bisa berendam air panas, bersosialisasi, bahkan makan-makan. Pemandian umum sangat populer dan menjadi bagian penting dari budaya urban Abad Pertengahan. Para pekerja kasar biasanya akan mampir ke sana setelah seharian berkeringat. Lalu, sebuah pertanyaan besar muncul. Jika teman-teman melihat bahwa mereka punya sabun, rutin mandi lap, dan menikmati fasilitas pemandian umum, dari mana datangnya mitos bahwa orang zaman dulu sangat anti-air? Jawabannya ternyata bersembunyi di balik sebuah krisis kesehatan global. Sebuah tragedi yang secara drastis mengubah arah sains kedokteran saat itu, dan membuat umat manusia mendadak sangat ketakutan pada air panas.

IV

Semuanya berubah total ketika Wabah Hitam atau Black Death menghantam Eropa pada pertengahan abad ke-14. Jutaan orang meninggal secara misterius dan brutal. Para dokter dan ilmuwan di masa itu mati-matian mencari penjelasan rasional. Saat itu, teori kuman penyakit alias germ theory belum ditemukan oleh Louis Pasteur. Sains medis dunia masih sangat bertumpu pada teori miasma. Teori ini menyatakan bahwa penyakit menular menyebar melalui udara buruk atau uap beracun. Lalu, apa hubungannya dengan mandi? Di sinilah logika sains abad tersebut bekerja. Para ilmuwan dan dokter menyimpulkan bahwa mandi air panas akan membuka pori-pori kulit. Jika pori-pori terbuka lebar, udara beracun alias miasma akan dengan mudah masuk ke dalam aliran darah dan membunuh mereka. Tiba-tiba, mandi bukan lagi soal kebersihan. Mandi dianggap sebagai tindakan bunuh diri. Jadi, orang-orang mulai menghindari air bukan karena mereka jorok, melainkan karena mereka mengikuti anjuran medis terbaik yang ada di zaman tersebut. Untuk menyiasatinya, mereka beralih mengganti pakaian linen putih di balik baju utama mereka sesering mungkin. Linen dipercaya secara ilmiah mampu menyerap kotoran tubuh tanpa perlu mengambil risiko membuka pori-pori kulit.

V

Mengetahui fakta sains dan sejarah ini, rasanya kita perlu sedikit mengubah cara pandang kita. Orang-orang di akhir Abad Pertengahan dan awal era Renaisans tidaklah bodoh atau kotor secara sengaja. Mereka adalah manusia biasa yang berusaha keras bertahan hidup di tengah pandemi yang tak terlihat. Mereka mengambil keputusan berdasarkan data keilmuan mutakhir yang tersedia bagi mereka saat itu. Jika kita renungkan sejenak, perilaku ini sangat manusiawi dan dekat dengan kita. Bukankah kita di zaman modern juga sering mengubah gaya hidup secara drastis saat ada temuan medis baru? Teman-teman, sejarah bukanlah sekadar cerita usang tentang masa lalu. Sejarah adalah cermin dari psikologi manusia dalam merespons ketakutan, ancaman, dan batas pengetahuan. Kelak, sangat mungkin manusia di abad ke-25 akan melihat kebiasaan medis kita hari ini dan tertawa kebingungan. Namun setidaknya, lewat kacamata berpikir kritis dan empati, kita belajar untuk tidak lagi menghakimi leluhur kita hanya dari karikatur di film fiksi.